Pandangan Saya Terhadap Program MBG

Program MBG
Susana MBG sebelum dibagikan ke siswa-siswi salah satu sekolah swasta Surabaya, Kamis (31/3/2026)
,
Program MBG (Makan Bergizi Gratis) merupakan program pemerintah era presiden Prabowo sampai sekarang tertanggal dipublikasikannya postingan blog ini. Program MBG berjalan bertahap semenjak diluncurkannya program pada sekitar awal tahun 2025 yang lalu.

Tujuan Program MBG (Makan Bergizi Gratis)

Adapun program ini berfokus pada sejumlah tujuan seperti kesehatan, pemenuhan gizi, dan mengurangi stunting khususnya bagi para pelajar untuk memaksimalkan fokus belajar. Selain itu juga untuk balita, ibu hamil, dan menyusui.

Terkait program yang masih berjalan ini, ada sejumlah sudut pandang hadir dari kalangan masyarakat. Ada yang menyambutnya dengan rasa suka cita, namun ada juga yang tidak setuju dengan adanya program tersebut. Pandangan Saya Terhadap Program MBG, simak disini link.

Dinamika Program MBG dari Kalangan Masyarakat

Hal itu karena ada dinamika-dinamika yang dirasakan oleh masyarakat. Berikut penulis merangkum dinamika yang kontra dengan program MBG tersebut.

Pertama, adanya kasus keracunan. Banyak kasus keracunan di sejumlah sekolah yang berbeda. Kedua, tidak sesuai porsi dan dinilai tidak memenuhi gizi lengkap. Bahkan, ada sejumlah makanan yang terindikasi basi sehingga makanan tidak diterima dan dikembalikan lagi.

Ketiga, adanya keterlambatan pengiriman. Keempat, adanya protes dari pihak tertentu karena merupakan pemborosan anggaran negara dengan nilai yang fantastis.

Berdasarkan alasan-alasan yang disebutkan di atas, penulis ingin menarik sebuah kesimpulan bahwa terkadang kebijakan pemerintah tidak didukung secara menyeluruh oleh masyarakat. Hal itu (menurut/Pen) hal yang wajar, karena Indonesia menganut sistem demokrasi dan segenap warga memiliki hak untuk berpendapat.

Sudut Pandang Penulis Terhadap Program MBG

Berdasarkan sudut pandang penulis, program MBG adalah program yang baik bagi kalangan pelajar, balita, serta ibu menyusui butuh makan makanan yang bergizi. 


Beredar di sosial media, ada kalangan siswa yang mengatakan, dengan adanya program tersebut membantu uang sakunya, yang awalnya untuk dibeli makan kemudian dengan adanya MBG itu uang sakunya untuk keperluan yang lain.

Selain itu, tidak menutup kemungkinan ada siswa yang tidak dibawakan uang saku dan bekal sekolah dari orang tuanya dengan berbagai alasan.

Penulis ingin menarik kesimpulan bahwa ada sejumlah program yang tidak langsung dirasakan orang miskin. Sementara melalui MBG ini adalah kebijakan pemerintah yang diberikan langsung kepada anak-anak bangsa untuk pemenuhan gizi dengan tidak tebang pilih. 

Semua dianggapnya sama tanpa memandang anaknya si orang kaya dan sebagainya karena sesuai dengan nilai-nilai pancasila yaitu Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Harapan penulis terhadap program MBG


Lebih lanjut, dinamika yang terjadi belakangan ini seperti keracunan, memang perlu untuk pengawalan secara massive dari pemerintah melalui pihak terkait. Semoga ke depannya lebih baik lagi. Aamin.

Terakhir, bagi penulis program MBG adalah program pemerintah yang baik. Presiden Prabowo memiliki hati mulia memberikan makanan ini walau dengan anggaran yang tidak sedikit. Adanya dinamika serta kasus yang beredar tentu bukan sesuatu yang diinginkan.

Haul Bujuk Tambak Bersama KH Musleh Adnan

Haul Bujuk Tambak Agung Bersama KH Musleh Adnan
KH Musleh Adnan saat mengisi tausiyah dalam acara halal bi halal dan haul Tambak Agung, Tanah Merah Laok, Bangkalan. Sumber foto by ss Youtobe Channel @Vivi Production, Jum'at (27/3/2026).

Haul bujuk di dusun Tambak Agung, Tanah Merah Laok, Kec. Tanah Merah, Kab. Bangkalan diselenggarakan kembali untuk yang ke 21 kalinya di rumah seppo desa setempat pada Senin malam (23/3/2026).


Kegiatan tahaunan ini dimeriahkan oleh satu penceramah yang sangat viral di Madura yaitu KH. Musleh Adnan yang berasal dari kabupaten Pamekasan. Kegiatan dikemas dalam rangka halal bihalal dan haul yang diisi dengan pembacaan shalawat, doa, dan tausiyah umum melalui rangkaian-rangkaian agenda runtun.

Pengajian umum menjadi salah satu agenda ngaji bareng sebagai upaya thalabul ilmi yang bisa meningkatkan ukhuwah islamiyah dengan mempererat tali persaudaraan serta meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT. 

Panitia haul senantiasa update dengan penceramah viral dari kalangan masyarakat Madura. Pada tahun 2025 yang lalu mengundang Kyai Kholil Yasin untuk mengisi tausiyah tersebut, sementara (ini/pen) mengundang KH. Musleh Adnan dengan gaya penyampaian yang jelas, mudah dipahami, dan menyenangkan. 

Hal tersebut mampu memberi sentuhan islami yang mencerahkan bagi segenap masyarakat anak putu bujuk Tambak Agung yang hadir. Adapun tausiyah yang  disampaikan kyai Musleh kali ini Haul Bujuk Tambak Bersama KH Musleh Adnan menekankan sejumlah hal penting sebagai bentuk pembelajaran. 

Penulis mencatatnya, antara lain sebagai berikut.

Pertama, halal bi halal merupakan satu-satunya tradisi yang ada di Indonesia. Di negara lain tidak ada istilah tersebut.

Berdasarkan cerita, dulu eks presiden Soekoarno ingin mengadakan kegiatan mengumpulkan tokoh-tokoh agama dan tidak tahu akan dinamakan apa kegiatan tersebut. Kemudian direspon oleh salah seorang ulama, Kyai Wahab Hasbullah, nama kegiatan tersebut yaitu Halal bi halal. 

Kyai Musleh berpendangan apalah arti dari sebuah kegiatan, yang terpenting adalah isi dari acara tersebut.

Dia memberi perumpamaan dalam tradisi seribu harinya orang yang sudah meninggal, dimana pihak keluarga menyedekahkan sejumlah barang kepada masyarakat yang pahalanya dikhususkan kepada almarhum atau almarhumah. Misalnya makanan, minuman, payung, pakaian, hingga perabot rumah tangga. 

Terkait hal tersebut, Kyai Musleh menjelaskan apa pun barangnya dan kegiatannya yang terpenting adalah substansinya yaitu SEDEKAH.

Kedua, dalam riwayat imam nawawi, dijelaskan kembali oleh Kyai Musleh versi Madura “Sapah oreng se kasokan ngabdiya dek ka reng sepponah se ampon sobung omor, maka sedekae reng sepponah. Karena sadeka neka ganjaranna paste depak ka mayyit." 

Di akhir kalimat, hal tersebut tidak ada pertentangan pendapat antara orang islam. 

Ketiga,  kyai Musleh menyayangkan masih ada sebagian masyarakat era sekarang, ada saudara saling tidak bertegur sapa pun antar tetangga. Dia menyebutkan era sekarang adalah era yang kompetitif untuk saling adu kaya, adu sombong.

Dampaknya istilah Madura (bisa jadi/pen), “Tretan dedi muso, oreng dedih tretan”. Maka penting adanya kegiatan halal bihal layaknya benang kusut, supaya terbuka dan diperbaiki kembali.


Keempat, setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Orang cerdas biasanya banyak akal dan mudah bosan. Tatkala disuruh orang tua, justru bermalas-malasan, tetapi bagi yang tidak pintar misalnya, justru mereka dominan jujur dan tanggap saat diperintah orang tuanya. 

Pesan Madura, ”Tak usa ghir ghi ghiran, tak olle bintang kelas tak papah. Arghai anak make tak prestasi. Dhinah make tak penter. Anak andik beng sebeng”

Demikian beberapa pesan implisit yang disampaikan oleh KH. Musleh Adnan dalam bahasa Madura pada momen halal bihalal dan haul bujuk Tambak Agung.