![]() |
| KH Musleh Adnan saat mengisi tausiyah dalam acara halal bi halal dan haul Tambak Agung, Tanah Merah Laok, Bangkalan. Sumber foto by ss Youtobe Channel @Vivi Production, Jum'at (27/3/2026). |
Haul bujuk di dusun Tambak Agung, Tanah Merah Laok, Kec. Tanah Merah, Kab. Bangkalan diselenggarakan kembali untuk yang ke 21 kalinya di rumah seppo desa setempat pada Senin malam (23/3/2026).
Kegiatan tahaunan ini dimeriahkan oleh satu penceramah yang sangat viral di Madura yaitu KH. Musleh Adnan yang berasal dari kabupaten Pamekasan. Kegiatan dikemas dalam rangka halal bihalal dan haul yang diisi dengan pembacaan shalawat, doa, dan tausiyah umum melalui rangkaian-rangkaian agenda runtun.
Pengajian umum menjadi salah satu agenda ngaji bareng sebagai upaya thalabul ilmi yang bisa meningkatkan ukhuwah islamiyah dengan mempererat tali persaudaraan serta meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT.
Panitia haul senantiasa update dengan penceramah viral dari kalangan masyarakat Madura. Pada tahun 2025 yang lalu mengundang Kyai Kholil Yasin untuk mengisi tausiyah tersebut, sementara (ini/pen) mengundang KH. Musleh Adnan dengan gaya penyampaian yang jelas, mudah dipahami, dan menyenangkan.
Hal tersebut mampu memberi sentuhan islami yang mencerahkan bagi segenap masyarakat anak putu bujuk Tambak Agung yang hadir. Adapun tausiyah yang disampaikan kyai Musleh kali ini menekankan sejumlah hal penting sebagai bentuk pembelajaran.
Penulis mencatatnya, antara lain sebagai berikut.
Pertama, halal bi halal merupakan satu-satunya tradisi yang ada di Indonesia. Di negara lain tidak ada istilah tersebut.
Berdasarkan cerita, dulu eks presiden Soekoarno ingin mengadakan kegiatan mengumpulkan tokoh-tokoh agama dan tidak tahu akan dinamakan apa kegiatan tersebut. Kemudian direspon oleh salah seorang ulama, Kyai Wahab Hasbullah, nama kegiatan tersebut yaitu Halal bi halal.
Kyai Musleh berpendangan apalah arti dari sebuah kegiatan, yang terpenting adalah isi dari acara tersebut.
Dia memberi perumpamaan dalam tradisi seribu harinya orang yang sudah meninggal, dimana pihak keluarga menyedekahkan sejumlah barang kepada masyarakat yang pahalanya dikhususkan kepada almarhum atau almarhumah. Misalnya makanan, minuman, payung, pakaian, hingga perabot rumah tangga.
Terkait hal tersebut, Kyai Musleh menekankan apa pun barangnya yang terpenting adalah substansinya yaitu SEDEKAH.
Kedua, dalam riwayat imam nawawi, dijelaskan kembali oleh Kyai Musleh versi Madura “Sapah oreng se kasokan ngabdiya dek ka reng sepponah se ampon sobung omor, maka sedekae reng sepponah. Karena sadeka neka ganjaranna paste depak ka mayyit."
Di akhir kalimat, hal tersebut tidak ada pertentangan pendapat antara orang islam.
Ketiga, kyai Musleh menyayangkan masih ada sebagian masyarakat era sekarang, ada saudara saling tidak bertegur sapa pun antar tetangga. Dia menyebutkan era sekarang adalah era yang kompetitif untuk saling adu kaya, adu sombong.
Dampaknya istilah Madura (bisa jadi/pen), “Tretan dedi muso, oreng dedih tretan”. Maka penting adanya kegiatan halal bihal layaknya benang kusut, supaya terbuka dan diperbaiki kembali.
Keempat, setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Orang cerdas biasanya banyak akal dan mudah bosan. Tatkala disuruh orang tua, justru bermalas-malasan, tetapi bagi yang tidak pintar misalnya, justru mereka dominan jujur dan tanggap saat diperintah orang tuanya.
Pesan Madura, ”Tak usa ghir ghiran, tak olle bintang kelas tak papah. Arghai anak make tak prestasi. Dhinah make tak penter. Anak andik beng sebeng”.
Demikian beberapa pesan implisit yang disampaikan oleh KH. Musleh Adnan dalam bahasa Madura pada momen halal bihalal dan haul bujuk Tambak Agung.

