Membahas tentang Budaya Antri

tentang budaya antri
Momen warga menerapkan budaya antri di Puskesmas Bulak Banteng Surabaya, Rabu (24/6/2026)

Mengantri merupakan kegiatan menunggu giliran untuk mendapatkan suatu layanan. Nomer antrian adalah nomor yang digunakan untuk mendapatkan giliran secara berurutan. Biasanya dimulai dari nomer kecil 1, 2, 3, dan seterusnya. 

Perlu kita perhatikan, dalam mengantri harus bersikap sesuai aturan, terutama mengedepankan sikap sabar dan taat aturan.

Sebagian negara, sikap antri telah membudaya dan jika melanggar budaya antri maka akan dikenai sanksi sosial seperti dikucilkan hingga menjadi sasaran amarah orang lain. Seperti contoh di negara Jepang. Orang jepang dikenal sebagai negara, dimana orang-orangnya tertib aturan, disiplin, dan menghargai orang lain.

Bagi mereka, menjaga antri sama dengan menjaga sikap kesopanan. Sikap-sikap ini dapat diamati dengan mudah terutama saat berada di ruang publik seperti di stasiun, toko, toilet, dan lain-lain.

Hal tersebut bukan tanpa alasan. Mereka didik sejak dini bahkan sejak berada di bangku TK. Seperti saat akan makan siang dan masuk kelas.

Selain itu, budaya malu juga diterapkan, ada istilah "Meiwaku" yang artinya tidak mau merepotkan orang lain. Uniknya, tindakan menyerobot akan mendapatkan sanksi sosial. Bagi mereka yang nyerobot hanya akan membuat malu dirinya sendiri dan bahkan keluarganya.


Kemudian, dapatkah budaya antri diterapkan di seluruh dunia? Tentu saja bisa. Penulis memberi contoh budaya antri di jepang bukan berarti di negara lainnya tidak menerapkan budaya antri. Dasarannya semua tertib aturan hanya oknum saja yang mungkin melanggar.

A note memberi contoh budaya antri Jepang karena orang jepang terkenal dengan budaya antrinya yang tertib.

Di Indonesia juga sama, orang-orangnya tertib dan menerapkan budaya antri. Bisa diamati saat berada di bank, pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit, dan lainnya.

Jika antrian bernomor mungkin cukup jelas, namun saat antri dengan tanpa nomor harus memfixkan posisi . Sebab terkait antri, penulis mempunyai pengalaman yang kurang mengenakkan saat mengisi bensin di pom.

Posisi saya saat itu berada  diantara dua barisan. Saya berada di posisi terakhir sebelum kedatangan orang baru di belakang saya. Walau pu saya adalah pendatang pertama dari belakang saya, rupanya ada sedikit keraguan saya memilih barisan antrian. 

Disitulah kesalahan saya sehingga posisi saya tidak benar-benar berada tepat mengantri di belakang. Akibatnya, walau saya datang lebih awal karena posisi saya seperti berbaris dua orang, saya dianggap keliru dan dirinyalah yang benar karena terlihat berbaris secara tertib. 

A note "Tidak semua orang mengerti dan mau mengalah". Sontak saya merasa diserobot lalu mencoba menegurnya.


Ia menjawab, “Tadi kan masnya milih baris yang itu, kenapa berubah baris disini? Mendengar itu, saya mawas diri dengan menahan emosi dan legowo.

Berdasarkan peristiwa tersebut, penting untuk mengambil sikap mengalah agar tidak terjadi percekcokan maupun perselisihan.

Bagi penulis, tempat umum merupaan tempat bersama, tidak selayaknya kita mendahulukan kepentingan diri semata, semua tertib sesuai aturan. Mengantri dengan sabar berdampak positif pada jalannya operasional, terutama di tempat-tempat umum.

Begini Cara Mengasuh Anak dengan Benar

Begini Cara Mengasuh Anak
Ibu Elly saat menyampaikan materi seminar parenting di Isyana Ballroom Hotel Bumi Surabaya, Ahad (14/5/2025) 

Sekolah kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya menggelar seminar parenting di Isyana Ballroom Hotel Bumi Surabaya dengan tema "Gadget dan Anak: Menemukan Harmoni dalam Pengasuhan", Ahad (14/5/2026).

Kegiatan diadakan pihak sekolah bersama komite Kreatif 20 terbuka untuk umum. Kegiatan tersebut juga didukung oleh BSI (Bank Syariah Indonesia). 


Pada momen seminar kali ini, pihak panitia menghadirkan pakar bertaraf nasional antara lain pakar anak dan psikologi Indonesia yakni praktisi, Bapak Risman Musa dan Ibu Elly Risman yang selaku pakar parenting.

Ibu Elly menegaskan dalam mendidik anak harus malalui cara dan komunikasi yang baik serta mendidik dengan hati yang tulus.  Berkat ilmu yang didapat itu, mereka besar harapan untuk berbagi kepada segenap audience untuk mempraktikkan bersama agar anak-anak tumbuh dan berkembang dengan baik. 

“Ilmu adalah titipan Allah, maka jangan sombong dengannya,” katanya.
Saat anak dalam kondisi apapun, sebaiknya orang tua tetap legowo, senyum, dan ajak komunikasi. “Ajak bicara, peluk, dan beri apresiasi kepada mereka,” ajaknya.

Dalam pemaparannya, ibu Elly menekankan bahwa dalam pola pengasuhan yang utama adalah ngomong. Sebagai orang tua, perlu untuk saling mengenali dan memahami pasangan, terutama anak. Mereka tumbuh dan berkembang dengan begitu unik.


 “Untuk itu, pertahankan lingkungan keluarga yang hangat. Hindari mendidik anak dengan membentak dan marah-marah. Jika selama ini demikian, maka patut untuk diperbaiki,” jelasnya. 

Dia sering menemukan suasana orang tua berbicara kepada anaknya dengan ngomong buru-buru, nada bicara tinggi, dan penuh emosi. Hal tersebut menjadi dampak negatif. “Bapak Ibu, kebiasaan-kebiasaan tersebut sering dilakukan dan berdampak pada pola pengasuhan anak,” tegasnya.

Menurutnya, saat anak emosi, orang tua perlu mengajak komunikasi misalnya "Kamu sedih? Mengapa kamu sedih? apa yang kamu inginkan?" dan sebagainya. Hal tersebut bisa menekankan emosi anak yang bergejolak sehingga emosinya bisa teralihkan.

Sebaliknya, sebagai orang tua tidak boleh melontarkan kata-kata dan mencap anak sebagai anak yang tertentu misalnya kamu ini bodoh? Anak nakal, dan sebagainya. Juga Cara Mengasuh Anak dengan Benar tidak boleh membanding-bandingkan dengan anak lainnya karena itu bisa mengurangi kantong jiwa yang bisa berakibatkan anak menjadi pasif dan tidak PD.

Terakhir, dalam kaitannya gadget, anak perlu diedukasi tentang dampak pornografi karena yang fatal adalah bisa merusak cara kerja otak.